Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

Bapak Solehudin Wahid


Hidup sebatang kara di tepi jalan dan tinggal menjadi satu dengan tempat iya bekerja, menjadi seorang penambal ban ulung. Bapak Soleh, orang biasa memanggil namanya. Beliau merupakan seorang yang taat beribadat, beliau selalu menghentikan pekerjaan menambal saat mulai terdengar suara azdan untuk  bergegas pergi ke masjid terdekat menjalankan sholat berjamaah. Bahkan suatu ketika beliau pernah menolak untuk menambal ban mobil milik Pak Soeharto sekitar tahun 1996 yang pada saat itu Bapak BJ. Habiebie sedang menjabat sebagai wakil presiden Indonesia, beliau menolaknya karena sedang ingin berangkat sholat subuh di masjid dekat tempat tinggalnya. Bukan atas dasar kesolehannya itu bapak Soleh dipanggil Bapak Soleh, namun karena namanya yang memang Soleh atau lengkapnya Solehudin Wahid.

Bapak Soleh sudah lama ditinggalkan Istrinya, pada zaman reformasi 1998 istri bapak Soleh sakit keras, karena kurangnya biaya untuk berobat akhirnya tak lama setelah Pak Abdulrahman Wahid diangkat menjadi Presiden istri bapak Soleh meninggal. Bapak soleh dan almarhhumah istrinya belum dikaruniai anak sampai saat ini, oleh karena cinta yang besar kepada sang istri Bapak Soleh tetap hidup menyendiri sampai sekarang. Dalam setiap doa yang dipanjatkan, pak Soleh selalu memohon agar sang istri diberi tenpat yang layak disisi Allah SWT dan memohon juga agar kelak seorang penambal ban yang sedang berdoa tersebut bisa diberangkat haji. Pak Soleh pernah menerima wasiat dari istrinya sebelum meninggal, bahwa sebelum bapak Soleh menyusul sang istri, bapak Soleh haruslah telah menjadi seorang haji. Dan bu Soleh juga berpesan agar pekerjaan menambal ban pak Soleh jangan sampai ditinggalkan. Karena alasa itu bapak Soleh tetap tekun sampai 2012 untuk menambal ban dan mengumpulkan uang untuk berhaji.

Pada suatu malam atau tetapnya satu malam setelah kembali terpilihnya Bapak Barack Obama menjadi presiden Amerika periode 2012-2016 di jalan Sudirman kota Jakarta ibukota negara Republik Indonesia. Pak Soleh sedang membereskan alat-alat kerjanya. Saat itu waktu menunjukkan pukul 20.00 WIB, dimana itu adalah waktu yang terlarut malam untuk seorang tambal ban masih membuka bengkelnya, ada seorang pembisnis muda kaya raya terlihat dari Ferarri yang digunakan melintasi bengkel pak Soleh dengan kecepatan tinggi, seolah sedang tergesa-gesa. Bapak Soleh yang sedang asyik menggulung selang kopresor tidak begitu memperhatikan, dia hanya melihat bahwa itu mobil ferarri warna hijau dengan plat B 1234 CD keluaran 2011 dengan tepat duduk yang telah diganti sampulnya dan bemper depan yang sedikit tergores serta memakai velg 19”. Tidak lama setelah mobil tersebut lewat terdengar suara letusan suara rem mobil yang kuat sekitar 25 meter dari tempa pak Soleh berdiri saat itu. Ternyata mobil ferarri tersebut berhenti, pemuda keluar dari mobil dan memeriksa bagian bawah mobil. Ternyata ban mobil tersebut bocor, malangnya lagi ban tersebut bocor kiri-kanan depan-belakang. Melihat situasi daerah yang sepi dan hanya ada pak Soleh, dia secepatnya mendatangi pak Soleh. Dia bertanya dimana bengkel ban jam segini yang paling dekat yang masih buka, tepat disamping kiri tempat pak Soleh berdir teradap plakat yangi tertulis “Tambal Ban” sejajar tinggi dengan pak Soleh. Dengan nada meninggi dia bertanya kepada pak Soleh sekali lagi memotong kata “pak” yang saat itu hendak diucapkan pak Soleh. Bapak Soleh menjawab dengan sabar, bahwa ini bengkel ban satu-satunya yang masih sedikit terbuka di daerah itu. Pemuda itu kemudian meminta untuk pak Soleh segera membatunya mengambil mobil itu untuk segera ditambal dan pemuda itu hanya memberi waktu 55 menit kepada pak Soleh untuk menambal mobilnya..

25 meter dari bengkel pak  Soleh. Pebisnis muda dan pak Soleh membawa mobil tersebut ke bengkel. Bapak Soleh yang tidak bisa mengendarai mobil berada di tempat duduk kemudi untuk mengarahkan mobil tersebut ke bengkel. Pemuda tadi yang dengan otot ala kadarnya mendorong mobil sesuai perintah pak Soleh. Setelah 30 menit kemudian mobil tersebut telah sampai ke bengkel dan siap di tambal. Tanpa pikir panjang pak Soleh yang memang ahli menambal terbukti dari tahun 1960 saat umurnya masih 10 tahun beliau sudah ikut bapaknnya menambal ban sepeda yang digunakan para pahlawan kemerdekaan yang masih hidup kala itu segera mencopot semua ban yang bocor dan segera menambalnya. 15 menit sejak waktu itu, ban mobil tersebut telah selesai ditambal dan telah terpasang di mobil ferarri tersebut.

Pebisnis muda kemudian membayar pak Soleh dengan uang Rp100.000, pak Soleh segera masuk kedalam bengkel untuk mencari kembalian, tiba-tiba 5 menit setelahnya pak Soleh kemudian bilang bahwa beliau tidak memiliki uang kembalian. Pebisnis muda tersebut kelihatannya kesal kepada pak Soleh kemudian ia berkata:
Gimana bapak ini katanya tukang ban yang profesional, masak kembalian segitu aja nggak ada! Bapak ini sudah buat saya menunggu, waktu saya udah habis ini! Jadi habis berapa ini?”
Bapak Soleh kemudian menjawab yang intinya pemuda tadi suruh membawa dulu uang itu, dan masalah bayaran besok andai pemuda itu lewat lagi. Serta bilang bahwa cuma Rp20.000 ongkos tambalnya. Kemudian Pemuda tersebut pergi segera kembali dengan kecepatan sebuah mobil Ferarri.

Dua minggu setelah kejadian itu,  bapak Soleh yang sedang membaca koran dibengkelnya sambil menunggu orang yang ingin menambal ban didatangi seorang pemuda. Pak Soleh lupa bahwa pemuda tersebut adalah orang yang menambal ban mobil yang keempat-empatnya bocor di malam  hari, dua minggu yang lalu. Setelah beberapa saat berbincang akhirnya pak Soleh ingat dengan pemuda ferarri tersebut.

Tidak lama setelahnya pemuda ferarri membayar hutangnya kepada pak Soleh, karena Pemuda Ferarri tersebut seorang yang profesional maka uang pas Rp.20.000 ia bayarkan ke pak Soleh. Bapak Soleh menolak uang tersebut atas dasar ia telah ikhlas dengan uang tersebut. Melilhat keikhlasan pak Soleh hati Pemuda Ferarri pun terhenyut.

Setelah itu mereka berbincang-bincang kembali.

Sampai akhirnya si pemuda menanyakan keinginan yang paling diimpikan pak Soleh. Bapak Soleh yang soleh dan jujur menjawab pertanyaan tersebut malu-malu kucing dan menyebutkan bahwa dia punya mimpi sebelum meninggal dia ingin naik haji seperti amanat istrinya dahulu. Hari ini pemuda tersebut terllihat berbeda dengan waktu malam itu, dia berubah bak power ranger menjadi orang yang ramah dan murah senyum. Setelah mendengar pernyataan yang keluar dari mulut pak Soleh si Pemuda Ferarri berkata : “bapak tahun besok akan naik haji, saya yang akan biayai keberangkatan bapak haji, karena kebetulan saya juga ada rencana tahun depan naik haji”

Karena terdengar tidak meyakinkan, pak Soleh hanya tersenyum dan bilang :’’terimakasih pak, bapak bisa saja  buat hati saya seneng.”

Pemuda: “pak ini bener, saya akan berangkatkan bapak haji tahun depan bareng saya”

‘’Ciyus pak? Enelan? Bapak nggak boong? Miapah? Kenapa pak?’’  sahut pak Soleh alay, mengeluarkan kalimat yang sedang digandrungi para anak muda sekarang, karena bahagianya beliau mendengar kabar tersebut.

 “jangan panggil saya bapak pak, panggil nama saya saja, saya Agung pak.. Begini pak sebenarnya malam waktu itu saya sedang dalam perjalanan menemui para klien saya untuk sebuah tender yang lumayan besar, nah karena bantuan bapaklah saya bisa datang kesana tepat waktu dan alhamdulillah memenangkan tender tersebut. Saya juga minta maaf kalo saat itu saya sedikit kasar sama bapak, seandainya malam itu bapak tidak menambal ban mobil saya, saya pasti tidak akan bisa datang tepat waktu dan tidak mungkin kami tidak bisa memenangkan tender itu.” Terang pemuda tersebut tersenyum.

Bapak Soleh : “Alhamdulillahirobilalamin ya Allah”


-----SELESAI----

Cerita Tentang Mimpi, Ayam dan Elang



Sumber : Vemale.com
Oleh: Agatha Yunita
Suatu hari, hiduplah seekor elang yang menyimpan telur-telurnya di atas pohon tinggi. Di dalam sarangnya, keempat telur sama-sama menunggu untuk menetas dan menikmati hidup.
Tak disangka, sebuah gempa bumi datang dan menjatuhkan sebutir telur ke bawah. Beruntunglah telur tersebut tidak pecah dan jatuh di semak-semak dekat dengan peternakan ayam. Seekor induk ayam melihat telur tersebut kemudian membawanya pulang.
Merasa iba, tanpa berpikir panjang ia mengeraminya. Merawat dan memberikannya kehangatan, dan

100 Juta Tahun Sebelum Masehi


Pernah denger cerita Kancil dan Buaya nggak??
ulas----> Ceritanya si kancil mau nyebrang nggak tau jalan terus liat buaya dan selanjutnya, pokoknya gitu dah basi ngulasnya *anak SD banget.
Nah sekarang aku mau cerita nih, masalahnya ya  nggak SD-SD banget dah, udah gedean dikit.

Alkisah, 
Dahulu kala, 100 juta tahun yang lalu sebelum masehi hiduplah seorang nenek tua renta. Hidup di hutan rimba yang jaaauuuuuh dari kota, hidup sebatang kara bersama seorang cucu,, cucu pertama bernama Nabila umurnya masih 19 tahun (ceritanya si nenek udah tua banget pokoknya, umurnya itu udah 50 tahun, wow banget kan???), oy terus cucu ke 2 namanya Sabrina nah yang ke 2 ini baru aja lahir nih sekitar 12 tahun yang lalu gitu, cucu ke 3 diberi nama Kati Pirri umurnya setahun lebih tua dari cucu pertama (*dapat namanya karena si nenek fans berat katy perry), dan masih ada 11 cucu lagi yang umur, jenis kelamin dan namanya belum diketahui. Ceritanya si Nenek tidak punya anak, sewaktu masih muda mempunyai penyakit, penyakitnya itu sangat susah disembuhkan jadi hingga umurnya yang sudah 50 tahun dia tidak bisa punya anak, penyakitnya menurut tetangganya adalah tidak mempunyai suami.
Singkat cerita. Pada suatu hari nenek sedang sakit parah, semua cucu dikumpulkan di ruang tamu, si nenek kemudian berwasiat kepada 2 orang cucu yang paling tua yakni kepada Nabila dan si Kati pirri sebelum ambulan datang membawa nenek kerumah sakit. Nenek berkata ; "Nabila, Kati umur nenek mungkin sudah tidak lama lagi, nenek cuma berpesan kepada kalian berdua untuk menjaga adik-adik kalian ini yang jumlahnya sudah 20-an ini. (#oya si nenek ini ceritanya si pemilik panti asuhan). Kalian harus segera bekerja untuk menghidupi mereka dan membayar biaya rumah sakit nenek di mana nenek dirawat nanti di London. Kalian harus bekerja........."" sambil terbata-bata sebelum masuk ambulan.

Singkatnya lagi.
2 hari setelah kepergian nenek di kati dan nabila berdiskusi di bawah pohon, mereka membicarakan pekerjaan yang tepat buat mereka. Kati; "bil mungkin kita kerja bertani saja, itu kebun kita yang 5 petak kan bisa kita manfaatkan". Nabila: "OMG kati. No.No.No.No, kita mending cari kerja di desa tetangga saja, aku dengan dari orang hutan yang lain desa disana adalah desa yang makmur, mungkin kita bisa dapat banyak uang disana". Kati: "tidak bil, nanti gimana dengan adik yang lain? aku tetap tinggal bil". Nabila; "Ok kita pisah kalo gitu, aku yakin aku akan dapat banyak uang disana, lagi pula disini kan ada Parno kat.kat.".
Seminggu kemudian Nabila pergi ke desa tetangga untuk mencari pekerjaan, sewaktu di jalan dia menemukan selebaran lowongan pekerjaan, Tertulis "DICARI, SESEORANG WANITA GIAT, SOPAN, CANTIK......." kertasnya sobek cuman sampai situ namun tertera alamat disitu JALAN TETANGGA DESA HUTAN JAYA, NO 29, RT 5, RW 2. Dalam hati nabila berkata, "wah aku banget". Dengan cepat ia mengayuh sepedanya menuju alamat tersebut. Sampai disana ia terkejut dengan pekerjaan apa yang ditawarkan, MENJADI SEORANG KULI BANGUNAN, karena kagetnya air yang tepat berada di depannya dia habiskan sekali tegukan. Lama dia berjalan mencari pekerjaan di desa tersebut. Niat hati ingin pulang karena pekerjaan tak kunjung datang. Namun karna malu untuk bertemu saudaranya ia pun terpaksa mengambil pekerjaan kuli yang sebelumnya ia temukan.

Hari berganti, terus hingga tak terasa otot nabila kini lebih besar dari para finalis kontes binaraga *2 tahun tepatnya saat bangunan besar yang dia dan kuli yang lain kerjakan telah selesai,  bangunan dengan nilai 30 triliyun*.
Upah pun akhirnya dibayarkan, 200 juta. Setelah uang ditangan Nabila dengan sedikit membusungkan dada, berniat pamer kepada saudaranya di hutan segera pulang naik Taxi.

Beberapa hari perjalanan ia pun sampai di  hutan. Dia kaget dan tangispun tak tertahankan karna rumah yang ia tinggalkan dulu kini tak berpenghuni dan sudah reot bak di terpa badai. Ia menangisi semuanya, kini uang yang dia bawa tak ada artinya, dia menyesal tak bisa menghidupi keluarganya sampai akhirnya mereka telah tiada. Perlahan-lahan ia memasuki rumah tersebut, menangis, meratap, sedih semuanya bercampur. Saat ia sampai ke kamarnya dulu ia menemukan sepucuk surat. Ia baca perlahan surat tersebut dan bunyinya;

UNTUK NABILA 

NABILA KENAPA KAMU LAMA SEKALI PULANG, KAMI MENCARIMU, KAMI MEMBUTUHKANMU DISINI. NABILA MAAF KAMI TAK BISA BERTAHAN DARI INI SEMUA.  MAAF BILLL... -----> tangis nabila semakin kencang ia merasa paling berdosa.
MAAF BIL KAMI HARUS TINGGALKAN TEMPAT INI. PERTANIAN YANG DIKELOLA KAMI_______,,,,,,,, ---->surat terhenti bagian lain tak bisa terbaca terkena tetesan air mata Nabila. Baris terakhir kembali bisa dibaca,  bunyinya..______AN. BIL JIKA KAMU PULANG KAMI MUNGKIN TELAH PINDAH,, ---->berhenti membaca nabila sedikit tersenyum karna mereka cuma pindah, dalam hati (*mungkin tanah ini di jual karena panen kati gagal).. dilanjutkan kembali membacanya ----> NABILA INI ALAMAT KAMI YANG BARU,  JALAN TETANGGA DESA HUTAN JAYA, NO 29, RT 5, RW 2. SEGERA KUNJUNGI KAMI BIL.

SALAM.  ------>*Senyum datar*


KATI PIRRI

======SELESAI=======